“Brengsek, tidur ke lantai.”Aku tarik kepalanya sampai menempel ke lantai. Lo benar-benar cantik. Bokeb Dhea tetap terlihat cantik. Aku perkosa dia dengan kasar, seakan-akan aku ingin membuatnya mati dengan penisku, berusaha membuat Dhea menjerit serta aku menghentak masuk. Aku menindih Dhea dan bergoyang-goyang membuat penisku bergesekan dengan pantat Dhea dan dengan tanganku yang bebas kuraba bagian dada Dhea yang masih ditutup oleh dasternya. Dhea masih menangis dan gemetar. Dhea semakin histeris sekarang.Keadaanku sudah 100 persen dikuasai birahi, dan sekarang aku memusatkan perhatian untuk menyakiti Dhea, dan aku tidak punya lagi rasa kasihan buat Dhea. Mulutku bersentuhan dengan telinga Dhea. Vaginanya sempit sekali seperti menggenggam penisku. Dan Dhea sendiri sekarang mendengking-dengking seperti anak anjing yang ketakutan. Dhea tidak meronta-ronta, soalnya aku masih pegang belatiku, tapi terus menangis tersedu-sedu, dan mengerang-erang, berusaha berkata sesuatu. Buah dada Dhea masih kecil, yang membuatku makin birahi.




















