mau Mas”, katanya.Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan perjalananku setelah mengisi bensin sampai penuh. Film Porno setelah tadi tak sempat aku mengisinya. Tampak tempat tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. “Eeehhh…” erangku juga. Tangan kirinya ditekuk seperti akan memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau malu. Selang berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. “Eeehhh…” erangku juga. Burungku pun lebih lancar menjelajah. Selang berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. Kuulangi lagi cumbuanku dari mulai mengulum bibirnya, mencium pipinya, kemudian lehernya. Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku dan istriku memberi keyakinan untuk tidak menyesali apa yang pernah terjadi.Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out.




















