Bodoh, bodoh, bodoh. Bokep Tobrut Ke bawah lagi: Turun. Aku mengikutinya. Tetapi, aku harus berani. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Bodoh, bodoh, bodoh. Ia menyentuhnya. Langkahku semangat lagi. Ia menekan-nekan agak kuat. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah?




















