Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Bokeb Ke bawah: Tidak. Ia malah melengos. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Kadang-kadang ketimun. Kuusap sisa cream. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Creambath? “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Masih menutupi diri dengan tabloid. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Ke bawah lagi: Turun. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar.




















