kataku.Ya itu.Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik ditelingaku di atas ranjang yang putih. Bokep Colmek Haruskahkujawab sapaan itu? Ia kerja di sana? kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Kadangkadangketimun. Ah mengapabegitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Ia tepatberada di tengahtengah. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatkusekilas. Lalu ngomong apa? Dadaku tibatiba berdegupdegup.Bang, Bang kiri Bang..!Semua penumpang menoleh ke arahku. Ini.., kutunjuk pangkal pahaku.Besok saja Sayang..! Wiendatang. Yes. Oh.., aku hanya dapat menunduk,melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari diruangan sempit itu. Akumakin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.Halo..! Ayo..!Mbak.., pahaku masih sakit nih..! Dadaku mulai berdeguplagi. Ah sial. Sekarang sudahlebih lancar. Bibirku melumat bibirnya.Jangan di sini Sayang..! Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja.Badannya berbalik lalu melangkah.




















