Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aq lalu menuju salon. Jari tangan mulai dingin. Bokep Thailand Ke bawah lagi: Turun. Ciut. Kaki kusandarkan di tembok yg membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Paling tdk ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.“Mbak Iin..,” gumamku dalam hati.Perlu tdk ya kutegur? Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Aq terlambat setengah jam. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah penisku. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aq harus, harus, harus..! “Ya.”Lalu aq menuju ruang yg kemarin. Ke bawah lagi: Tdk. Come on lets go! Suara yg kukenal, itu kan suara yg meminta aq menutup kaca angkot.




















