Dug! Bokep Thailand Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini!” Jawabku masih dengan nada tinggi.Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Lho, kok bilang gitu…?” selaku. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Subhanallah … Alhamdulillah…********Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?” pinta isteriku. Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!“Maryam…!” panggilku, ketika tubuh berabaya gelap itu melintas. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain.




















