Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Bokep Indo Viral Bodoh amat. Bergantian Wien kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati payudaranya, ia melenguh. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Apa katanya nanti? Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Suara itu lagi. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Ia tersenyum ramah. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat.




















