Wien datang. Ia tersenyum ramah. Bokep Tante Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah.“Oh ya. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Aku tidak berani menatap wajahnya. Tapi masih terhalang kain celana. Apakah perlu menhitung kancing. Bau tubuhnya tercium. Sial. Ke bawah lagi: Turun. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya.




















