Dhea masih menangis dan gemetar. “Brengsek, tidur ke lantai.”
Aku tarik kepalanya sampai menempel ke lantai. Sex Bokep Tapi bagian yang paling susah sudah berhasil aku lampaui. Dhea beberapa kali meronta pada awalnya, berusaha membebaskan tangannya, berusaha berguling, berusaha mengeluarkan penisku dari vaginanya. Mulutku bersentuhan dengan telinga Dhea. Dia terbatuk-batuk. “Lo masih perawan tidak Dhea? Tetap diam dan aku akan pergi sebentar segera.”
Mata Dhea terpejam seakan-akan telah tertidur kembali. Seaat sebelum aku mengalami orgasme aku menarik penisku keluar dan Dhea langsung berusaha untuk berguling. Nafasku juga terputus- putus, dan bergidik sedikit ketika aku mengejang lagi dan menyemprotkan sisa spermaku ke rahim Dhea. Dhea berbaring tidak nyaman, berbaring telentang dengan tangan terikat ke belakang, dan telanjang mulai pinggang ke bawah, rambut kemaluannya yang masih tipis terlihat jelas.




















