Sekarang sudah lebih lancar. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Vidio Porno Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Ah masa bodo. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Hitam. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Mendadak jari tanganku dingin semua. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Tidak perlu diantar. Benarkan kesempatan itu lewat. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.Aku hanya mendengus.




















